Senin, 01 April 2019

Manajemen Pendidikan Prodi PGMI IAIN Kendari

  
Salah satu tujuan pembangunan nasional di Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Selanjutnya, sebagai upaya memenuhi tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa, maka pemerintah, keluarga, dan masyarakat saling bekerjasama dan sangat berperan penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan diselenggarakan mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai dengan Perguruan Tinggi (PT). Sementara itu, Tirtaraharja dan La Sulo (2005:76), menyatakan pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) masih dipandang sebagai kelompok belajar yang menjembatani anak dalam suasana hidup di keluarga dan di sekolah dasar. Usia 0-6 tahun ini merupakan usia penting bagi anak, sehingga sering disebut dengan usia emas (golden age). Hasil dari berbagai riset menunjukkan bahwa 50%-80% otak anak berkembang pada usia tersebut. Oleh sebab itu, masa ini merupakan masa yang tepat sebagai peletak dasar. Pada tahap ini anak senang bermain dengan lingkungan sekitarnya dan suka menirukan apa yang dia lihat.

Pengembangan berbagai kecerdasan, baik intelektual, bahasa, sosial, agama, dan lain sebagainya. Pendidikan anak usia dini memiliki ciri khas tersendiri, mereka memiliki karakteristik menyukai aktivitas langsung dan berbagai situasi yang bertautan dengan minat dan pengalamannya. Mereka lebih senang bermain Oleh karena itu, anak usia dini lebih cocok dengan pola pembelajaran konkret dan aktivitas motorik. Menurut Musfiroh (2008:129) pendidikan anak usia dini di Indonesia mengalami masa-masa penuh dilema. Pendidik hingga saat ini masih menerapkan pendekatan akademik penuh hafalan. Praktik yang sesuai dengan kebutuhan serta perkembangan anak belum seluruhnya diterapkan. Pada dasarnya setiap individu adalah cerdas. Masing-masing individu ini memiliki setidaknya sepuluh kecerdasan dasar, antara lain: “kecerdasan bahasa, kecerdasan matematika, kecerdasan ruang, kecerdasan gerak/tubuh, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan eksistensial.

Kesepuluh kecerdasan tersebut biasa disebut dengan kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Setiap kecerdasan anak berbeda-beda mereka mempunyai gaya belajar tersendiri dalam memahami pelajaran tertentu, tetapi ada juga siswa yang cepat atau mudah memahami apa yang di sampaikan. Kita ketahui bahwa manajemen bisa dikatakan sebagai suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengorganisasian pemakaian sumber manusia dan material. Pendapat lain tentang manajemen dikemukakan oleh Fattah (2008:1) yang menyatakan “manajemen diartikan sebagai proses merencana, mengorganisasi, memimpin, dan mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien”. Dengan adanya manajemen pendidikan sebagai seorang guru harus mengelola, mengarahkan serta mengontrol agar apa yang diinginkan dapat berjalan sesuai dengan yang kita inginkan. Dan pembelajaran di sekolah juga dapat berjalan secara aktif dan efesien.


Istilah lain dari manajemen, yaitu pengelolaan. Manajemen merupakan kata dalam bahasa Inggris, yakni management yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, dan pengelolaan. Pengelolaan adalah penyelenggaraan atau pengurusan agar sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif, dan efisien. Di sisi lain, pendapat yang serupa dikemukakan oleh Rahayu (2011:1) yang menyatakan, bahwa “pengelolaan diartikan sebagai kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan kegiatan-kegiatan orang lain”. Pembelajaran merupakan tindakan atau kegiatan yang difokuskan pada hal-hal khusus yang dipelajari oleh peserta didik (Smith dan Ragan dalam Setyosari, 2001:2). Pendapat lain mengenai pembelajaran juga dikemukakan oleh Hamalik (1995:57) yang menyatakan, pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran. Di sisi lain Gagne dan Briggs (dalam Purwasih, 2012:2) mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu rangkaian  events (kondisi, peristiwa, dan kejadian) yang secara sengaja dirancang untuk mempengaruhi pembelajar, sehingga proses belajarnya dapat berlangsung mudah. Pembelajaran mencakup semua kegiatan yang mungkin mempunyai pengaruh langsung pada proses belajar manusia.

 Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen pembelajaran sebagai berikut: jadwal kegiatan guru-siswa, strategi pembelajaran, pengelolaan bahan praktik, pengelolaan alat bantu, pembelajaran ber-tim, program remidi dan pengayaan, dan peningkatan kualitas pembelajaran. Secara operasional, manajemen pembelajaran merupakan pelaksanaan fungs-ifungsi manajemen pada komponen pembelajaran, yaitu: siswa, guru, tujuan, materi, metode, sarana/ alat dan evaluasi. Ruang lingkup dalam manajemen pembelajaran dapat terlihat dari kegiatan manajemen pembelajaran. Jadi guru harus mampu mengoperasionalkan keadaan kelas dengan baik yaitu harus ada interaksi guru dan siswa dan guru juga harus memperhatikan metode, strategi dan Model yang akan di terapkan di dalam kelas agar siswa dapat memahami materi yang di sampaikan.  Tetapi yang paling utama yang harus di persiapkan guru yaitu tentang perencanaan.

 Perencanaan itu ialah menyeleksi dan menghubungkan pengetahuan, fakta, imajinasi, dan asumsi untuk masa yang akan datang untuk tujuan memvisualisasi dan memformulasi hasil yang diinginkan, urutan kegiatan yang diperlukan, dan perilaku dalam batas yang dapat diterima yang akan digunakan dalam penyeleksi. Sedangkan menurut Yuspen (2009:1) “perencanaan pembelajaran adalah proses membantu tutor secara sistematis dan menganalisis kebutuhan pelajar dan menyusun kemungkinan yang berhubungan dengan kebutuhan”. Perencanaan pembelajaran secara umum merupakan kegiatan atau tindakan apa yang akan dilaksanakan dalam suatu pembelajaran yaitu dengan mengatur dan merespon komponen-komponen pembelajaran, sehingga arah kegiatan (tujuan), sisi kegiatan (materi), cara penyampaian kegiatan (metode dan teknik), serta bagaimana mengukurnya (evaluasi) menjadi jelas dan sistematis. Guru yang baik dan Profesional selalu mempersiapkan diri, yaitu merencanakan program dan bahan pelajaran yang akan diajarkannya . Perencanaan pembelajaran yang disusun secara sistematis akan berfungsi sebagai pedoman bagi guru dalam membatasi kegiatan pembelajaran sesuai dengan batas yang ditetapkan dalam perencanaan. Pelaksanaan pembelajaran adalah proses kegiatan belajar peserta didik sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan untuk mencapai penguasaan kompetensi.

Lingkungan juga berperan penting dalam belajar siswa karena dengan lingkungan memungkinkan peserta didik belajar secara aktif. Sebagai upaya menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif diperlukan sistem pembelajaran yang memung-kinkan siswa belajar secara maksimal dan tidak mengalami kejenuhan, oleh karena itu diperlukan juga manajemen kelas yang baik. Jadi guru harus mempunyai kreatifitas yang baik sehingga dapat mempermudah proses pembelajaran. Keterampilan mengelola kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya ke kondisi yang optimal jika terjadi gangguan, baik dengan cara mendisiplinkan ataupun melakukan remedial. Pembelajaran kurikulum tingkat satuan pendidikan sedikitnya dipengaruhi oleh tiga faktor berikut:
  1.  Karakteristik KTSP yang mencakup ruang lingkup dan kejelasannya bagi pengguna di lapangan,
  2.  Strategi pembelajaran, dan
  3.  Karakteristik pengguna kurikulum yang meliputi pengetahuan, keterampilan, nilai, sikap guru terhadap KTSP, serta kemampuannya untuk merealisasikan kurikulum dalam pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran terdiri dari berberapa tahap. Tahapan dalam pelaksanaan belajar mengajar, antara lain: “(a) prainstruksional, yakni tahap yang ditempuh pada saat memulai suatu proses belajar-mengajar, (b) tahap instruksional, yakni tahap pemberian bahan pelajaran yang dapat diidentifikasikan dengan beberapa kegiatan, dan (c) tahap evaluasi atau tindak lanjut tahap instruksional”. 
           Evaluasi adalah salah satu alat untuk mengetahui hasil kemajuan belajar peserta didik yang harus dilakukan dengan baik. “evaluasi pembelajaran adalah suatu proses mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasi informasi secara sistematis untuk menetapkan sejauh mana ketercapaian tujuan pembelajaran”. Menurut Setyosari (2001:20), bahwa “evaluasi pembelajaran merupakan proses untuk menentukan dan menggunakan teknik untuk mengidentifikasi kelemahan-kelemahan yang ada atau yang terjadi dalam pembelajaran”. Tujuan utama dari evaluasi pembelajaran adalah untuk menghimpun informasi yang dijadikan dasar untuk mengetahui taraf kemajuan, taraf perkembangan, atau taraf pencapaian kegiatan belajar siswa. Disamping itu juga untuk mengetahui tingkat efisiensi dan tingkat efektifitas kegiatan mengajar.

      Pelaksanaan manajemen pembelajaran dalam rangka pengembangan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) untuk peserta didik dapat dilakukan hal-hal di bawah ini, antara lain: 
  1. Kegiatan terdiri dari kegiatan awal, inti, dan penutup,
  2. Kelas terdapat dua bentuk, di dalam ruangan dan di luar ruangan,
  3. Bentuk kelas variasi, ada klasikal dan kelompok. Bentuk klasikal yang dimaksudkan adalah tempat duduk menghadap ke depan semua mendengarkan penjelasan guru. Sedangkan bentuk kelompok yaitu membagi peserta didik dalam beberapa kelompok,
  4. terdapat variasi pemberian tugas. Terdapat dua tugas utama yang harus diselesaikan dalam satu pertemuan. Dua tugas tersebut tediri dari dua jenis bidang pengembangan. Dalam pengerjaannya terkadang anak disuruh memilih pekerjaan yang ia sukai untuk dikerjakan dahulu, terkadang ditentukan oleh guru,
  5. lingkungan kelas dibuat mampu menunjang berbagai kegiatan pengembangan kecerdasan majemuk peserta didik sehingga dimodifikasi untuk mampu meningkatkan kecerdasan siswa dan menunjangnya seperti, pencahayaan yang mampu menerangi seluruh ruangan, ventilasi yang cukup, hiasan yang berguna ganda untuk memperindah ruangan dan meningkatkan kecerdasan seperti penempatan hiasan berupa huruf alfabet, huruf hijaiyah, angka umum dan arab, nama-nama hari, bentuk-bentuk bidang, serta sudut alam sekitar,
  6. Terdapat berbagai kegiatan penunjang kecerdasan majemuk yang diwujudkan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.
  7. Peran guru dalam manajemen pembelajaran sangat besar. Guru bertugas senantiasa menjaga kondisi kelas nyaman dan tidak membosankan. Dalam menciptakan suasana kelas yang kondusif, guru melakukan beberapa tindakan yang bersifat preventif dan kuratif untuk mengendalikan situasi kelas. 
  8. Kegiatan evaluasi manajemen pembelajaran dalam rangka pengembangan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) terdiri dari beberapa bentuk kegiatan yang bertujuan memantau, mengetahui, dan mengembangkan berbagai kecerdasan majemuk peserta didik: (a) evaluasi dilakukan dalam dua bentuk, yaitu evaluasi harian dan evaluasi semester, (b) evaluasi harian berasal dari hasil pekerjaan. Tugas harian di buku atau lembar kerja berupa tanda bintang, mengamati tindakan ketika diberikan tugas, ketika melaksanakan serta hasil pekerjaan peserta didik, selain itu juga diadakan penilaian perilaku setiap hari serta penilaian konsentrasi 4-5 anak tiap hari yang ditulis dalam Rencana Kegiatan Harian (RKH), dan (c) evaluasi semester berupa buku rapor.         
          Terdapat beberapa faktor pendukung manajemen pembelajaran dalam rangka pengembangan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) antara lain: (a) guru yang mampu berinovasi, (b) kurikulum yang mendukung. Kurikulum yang dikembangkan sendiri oleh sekolah sangat mendukung berbagai kegiatan dalam pengembangan kecerdasan majemuk peserta didik. Kurikulum diwujudkan pula dalam pengelolaan kelas yang diselenggarakan secara berencana dan terarah serta terorganisir dengan baik. Kurikulum ini dikembangkan dan diwujudkan dalam prota, promes, Rencana Kegiatan Mingguan, serta Rencana Kegiatan Harian, (c) fasilitas, berupa mainan dan peralatan penunjang yang cukup memadai meskipun belum benar-benar lengkap, dan (d) adanya dinamika kelas yang ditunjukkan variasi bentuk kelas (kelas di dalam ruangan dan di luar ruangan, kelas bentuk klasikal dan bentuk berkelompok), variasi metode mengajar, variasi kegiatan belajar, sumber belajar, pengaturan tempat duduk, pengaturan warna dan pencahayaan, kedisiplinan kelas, pengelolaan perilaku peserta didik serta strategi pembelajaran yang digunakan. 

               Pelaksanaan manajemen pembelajaran dalam rangka pengembangan kecerdasan majemuk terdiri dari kegiatan awal, inti, dan akhir. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Sudjana (dalam Muchit, 2008:10) yang menyatakan, tahapan dalam pelaksanaan belajar-mengajar, antara lain: “(a) prainstruksional, yakni tahap yang ditempuh pada saat memulai suatu proses belajar-mengajar, (b) tahap instruksional, yakni tahap pemberian bahan pelajaran yang dapat diidentifikasikan dengan beberapa kegiatan, dan (c) tahap evaluasi atau tindak lanjut tahap instruksional”. Kegiatan awal (membuka pelajaran) dimaksudkan untuk memberikan motivasi kepada peserta didik, memusatkan perhatian, dan mengetahui apa yang telah dikuasai oleh siswa.

                  Terdapat beberapa faktor pendukung yang dimiliki oleh peserta didik dalam hal manajemen pembelajaran dalam rangka pengembangan kecerdasan majemuk peserta didik, di antaranya: memiliki guru yang kreatif dan inovatif, kegiatan pengembangan kurikulum yang mendukung, tersedianya fasilitas penunjang yang cukup, serta adanya dinamika kelas. Hasil temuan penelitian tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh Wahyu (2011:1) berikut: “adapun faktor pendukung dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
  1.  faktor internal, faktor internal yaitu faktor yang berasaldari dalam diri siswa baik kondisi jasmani (fisiologis) maupun rohani(psikologis).             faktor fisiologis yaitu kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot)yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya,dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. faktor psikologis yang meliputiminat,kecerdasan/inteligensi,bakat  motivasi, dan kemampuannya.
  2.  Sedangkan faktor eksternal, meliputi: (a) lingkungan, dan (b) faktorinstrumental yang ada dalam sekolah diantaranya kurikulum,program sekolah, sarana dan fasilitas sekolah”. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Yuspen (2010:1) yang menyatakan, “ada banyak faktor pendukung untuk keberhasilan suatu proses pendidikan. Misalnya Kurikulum yang solit, tenaga pendidik yang profesional, sarana pendidikan yang lengkap, suasana belajar yang tenang, tingkat inteligensi siswa yang diatas ratarata dan lain-lain”.